Ketiban durian runtuh. Mungkin inilah istilah yang tepat untuk saya, Agung, Dimas, Gilang dan Dian saat tiba-tiba ditawari tiket untuk acara The Markplus Conference 2013 di hotel The Ritz-Carlton Pacific Place hari kamis 13 Desember kemarin. 

Kami berangkat dari Bandung rencana jam 8 malam, tapi realisasinya baru masuk tol jam 10 malam! Dan kebanyakan waktu habis gara-gara untuk nyari makan malam di dalam kota, yang ujung-ujungnya di McD Dago. Setelah selesai makan baru kami berangkat ke Jakarta. Kebetulan pakai mobil papa dan gue yang nyetir dulu. Gila ngantuk parah, nyetir di tol tengah malam dan abis makan malam itu rasanya sesuatu banget. Mau ngebut juga kasian mobilnya, tapi kalau ngga ngebut ngantuk, serba salah. Alhamdulilah kami sampai di Jakarta sekitar jam 1an, dan langsung istirahat sebab besok jam 7an harus udah berangkat lagi.

Pertama kalinya gue masuk ke mall pagi hari sebelum jam operasional, sebab venue acaranya di Ballroom dimana masuknya dari mall Pacific Place 4th floor. Satu hal yang menarik, segala sesuatunya dibalut kemewahan. Jelas, yang dateng ke acara ini sebagian besar para professional di bidang marketing dan kami mungkin yang paling muda kali yah? Orang-orang di acara ini tuh keren-keren, dari berpakaian sampai gayanya. Dan yang paling top, saat acara sudah dimulai.

Deretan pejabat, mulai dari Menteri BUMN Dahlan Iskan, Jokowi, Dino Patti Djalal, Hermawan Kartajaya dan banyak lagi pimpinan perusahaan besar di Indonesia hadir dalam seminar ini. Topik yang dibahas ya ngga jauh seputar dunia marketing dan juga acara pemberian penghargaan salah satunya Marketeer of The Year 2012 yang berhasil disabet oleh bapak Dino Patti Djalal selaku Dubes Indonesia untuk USA dimana berhasil mempromosikan Indonesia dengan acara yang beliau gelar disana yang bertajuk Congress of Indonesia Diaspora (CID) pada sekitaran bulan Juni atau Juli. 

Selain itu, ada juga sesi expert panel yang mana pembicaranya marketing director langsung dari perusahaan-perusahaan top! Kebetulan kami masuk ke stage Social-Media dimana pembicaranya Director of Marketing RIM Indonesia, Blitzmegaplex dan BNI 46. Ilmu yang didapat cukup banyak, dan suasana di dalam ruangan itu pun asik lah. Ngga cuma itu, yang paling seru saat kami hunting makan waktu break acara. Namanya juga anak kuliahan, disugihin makanan mulai dari appetizer, main course sampai dessert kelas atas mana mungkin ngga ketagihan, jadi ngambil lebih dari sekali no problem lah ya. Hahaha

Sewaktu break, kami mengunjungi kantor Microsoft yang lokasinya persis di seberang Pacific Place, yakni di gedung BEJ 18th floor dengan di dampingi alumnus IT Telkom, kak Fiqi yang baru lulus S1 Teknik Informatika bulan November kemarin! Inilah pertama kalinya kami berkunjung ke kantor Microsoft Indonesia. Banyak informasi yang diberikan oleh kak Fiqi mengenai suasana kerja di Microsoft, dan cukup mem-brain wash gue untuk harus berusaha agar bisa mencicipi kerja di Microsoft kelak.

Selesai ngobrol-ngobrol dan foto-foto di kantor Microsoft, kami balik lagi ke ballroom, sebab masih ada satu acara lagi, yakni konser bertajuk The Indonesian Songbook From the East yang menampilkan musik-musik dari Indonesia timur yang super amazing! Ada Glenn Fredly, BLP, dan sederet musisi lainnya turut meramaikan konser ini. Hal ini yang membuat gue semakin jatuh cinta sama budaya Indonesia.

Selesai seluruh rangkaian acara, akhirnya kami pulang ke rumah eyang saya dan ini lah bayar parkir termahal dalam hidup gue, Rp. 45.000! Entah udah berapa belas jam kami parkir di mall kelas atas, untung tarif standar Pemprof DKI. 


Satu kata untuk acara kali ini, mulai dari berangkat-acara-pulang, AMAZING! Really fun with you all guys!

@ Microsoft's Office

Hai, sepertinya udah cukup lama gue ngga nulis di tumblr. Ya mungkin gara-gara kesibukan gue yang bertambah, mulai dari kelas baru, research group baru, dan project-project baru.

Kali ini gue mau cerita kesan 2 minggu pertama gue di kelas Internasional a.k.a TI 35 INT. Dari pertama kali dikasih kabar kalo gue dan beberapa temen gue dari kelas TI 06 keterima di kelas inter ini seneng banget, karena ini kelas internasional pertama di kampus gue khususnya di Fakultas Rekayasa Industri jurusan Teknik Industri, jadi ceritanya kita bakal dapet treatment khusus demi menyukseskan program ini. 

Jadi kami yang di kelas INT ini sebenernya ngga asal masuk, tetapi memangku “tugas” yang lumayan berat, tetapi diambil positifnya aja, toh bakal berguna bagi diri sendiri di masa yang akan datang terutama skill inggris baik writing maupun speaking yang bakalan kepake di dunia kerja professional kelak.

Tau sendiri lah, gue orangnya ceplas-ceplos begitu pula kalo pake bahasa inggris, masih seenaknya main mix antara inggris-indonesia-sunda yang penting masih kesampe apa yang mau diutarakan (kecuali kalo lagi formal :) ) Soalnya ngga mungkin kan kalo langsung jago ngomong gitu, perlu proses.

Udah gitu perkuliahan yang disampaikan dengan bahasa inggris, menuntut otak harus bekerja 2 kali, pertama menterjemahkan dan kedua mengolah maksudnya. Ya itu tantangan terbesarnya. Namun seiring berjalannya waktu, hal itu sudah biasa dan sedikit-sedikit sudah mulai teratasi. Kadang kalau lagi mentok, dosen pun pake bahasa indonesia :)

Ya mungkin baru segitu sih yang bisa gue ceritain untuk saat ini, semoga kedepannya bakal banyak hal menarik dan seru di kelas INT ini seperti di kelas TI-35-06 gue dulu :)

Saya bukan seorang Arsitek dan juga bukan Aerospace Engineer tapi Industrial Engineer, namun minat saya didalam 2 bidang itu cukup tinggi, why? Karena cita-cita masa kecil saya sebagai arsitek atau pilot. Ya karena dulu saat membangun rumah gambar-gambar denah, desain eksterior rumah sangat menarik. Pilot, karena dari kecil saya sangat antusias saat bepergian dengan pesawat (apalagi di Garuda, dulu anak-anak diizinkan masuk ke cocpit).

Namun kenyataannya saya kuliah melenceng dari 2 jurusan tersebut, tetapi masih banyak cara untuk bisa terjun di dua dunia itu. Karena fleksibilitas seorang Teknik Industri yang dapat kerja beberapa sektor apapun jenis perusahaannya, arsitektur atau penerbangan sekalipun.

So, jangan pernah mengucilkan mimpi masa lalu karena masa depan selalu terbuka apabila kita serius dan sungguh-sungguh meraihnya.

Diawali hobi mengoleksi mobil-mobil pajangan (die cast) terbesit untuk coba berbisnis (cuma iseng). Tetapi, setelah 3 hari mencoba menjadi seorang entrepreneur ada beberapa hal yang dapat dipetik:

pertama, saya jadi ngerti, bahwa mencari uang itu memang butuh kerja keras, butuh pengorbanan tenaga dan pikiran. Untuk mendapatkan uang Rp.20.000,- aja kerasa “perjuangan” mendapatkannya. Semoga kedepannya jadi lebih bijak me-manage uang.

kedua, proses transaksi mulai dari tawar menawar harga dengan penjual, lalu menjualnya lagi dengan memperkirakan keuntungan pribadi, harga saing dll. 

ketiga, punya penghasilan pertama itu rasanya sesuatu, spesial apalagi dari hobi. Namun, yang saya rasa sedikit sulit yaitu mempertahankan konsistensi. Justru konsistensi dan inovasi lah salah satu kunci para usahawan yang telah berhasil saat ini.

Semua ini berkat buku “Chairul Tanjung, Si Anak Singkong” yang sangat-sangat memotivasi saya untuk bergerak, merintis suatu usaha. Karena beliau merupakan sosok yang sangat luar biasa, pekerja keras dan seorang muslim taat, hingga bisa meraih segala sesuatunya saat ini.

Semoga kedepannya jadi lebih bijak me-manage uang.

Sebetulnya postingan ini mau dipost dari hari rabu kemarin, tapi gue belum sempet, ngga apa-apa lah :D

Hari ini gue ngga tau harus ngerasa sedih atau seneng. Kenapa? mungkin seseorang yang gue cintai (a.k.a pacar, Kiki) pulang ke rumahnya yang lumayan jauh disana. Pagi harinya, gue niat untuk nganterin dia ke terminal Leuwi Panjang, namun eyang gue yang dari Jakarta mau dateng, so mau ngga mau bantuin ibu tuk beres-beres rumah dan kamar. Rencana awalnya gue mau nyamper ke rumah kontrakan Kiki sekitar jam 8an, namun entah kenapa kepala gue agak pusing. Daripada membuat dia nunggu-nunggu ya sudah gue telpon dia konfirmasi kalo gue kayaknya ngga bisa nganter dia ke terminal.

Udah beres gue nelpon, temen sekamarnya langsung BBM gue, "Ham, kok lo ngga jadi ke sini…" Hemm gue galau abis tuh, dan ternyata berubah pikiran. Ambil jaket+kacamata sama celana jeans, gue langsung cabut ke kontrakan Kiki. Dan pas ditengah jalan dapet bbm lagi kalo Kiki ternyata udah di taksi. Ya udah gue puter otak dan mending nunggu langsung di terminal Leuwi Panjang.

Dijalan lumayan ngebut juga, biar cepet sampai, dan benar gue dateng duluan dan nunggu di pintu depan. Hampir 15 menit gue nunggu, dan gue baru dapet kabar klo Kiki udah ada di dalem bis, dan bisnya udah jalan. Arrgh, taksinya lewat jalan manaa?? kok bisa ngga ketemu??

Gue sempet bete, kala mengetahui kalo taksi biasanya emang lewat pintu belakang. Emang sih gue ngga nanya Kiki dulu sebelumnya, karena pengen ngasih sedikit kejutan, dan ternyata FAILED!.

Gitu Kiki tau kalo gue lagi di terminal dan bis udah jalan, dia nge-bbm sambil sedikit nyesel juga, kenapa gue ngga ngasih tau dia kalo mau ke terminal. Dan kita berdua sepertinya sama-sama tertunduk lesu karena ngga sempet bertemu untuk berpamitan..

Tapi dari kejadian ini, gue juga dapet suatu pelajaran yang berharga yang mungkin ngga bisa diceritain disini, cukup gue aja yang menyimpannya tuk saat ini..

i’ll always love you,

Ceritanya kemarin gue iseng-iseng mampir ke Trans Studio Mall (TSM, dulunya Bandung Super Mall/BSM) penasaran aja dengan yang udah jadi 100% maybe. Emang ngga ada tujuan dan ngga bawa uang juga, jadi cuma sekedar lihat-lihat di lantai 1 doank, dan keluar lagi menuju parkiran motor. Tapi desain eksteriornya lumayan bagus, jadi gue coba motretnya dari deket parkiran motor kebetulan lagi bawa kamera, tapi beberapa saat kemudian seorang satpam menghampiri,

S: mas, motret2 buat apa?

I : buat pribadi aja sih

S: harus ada izinnya yah (dengan nada agak tinggi)

I:Okeh! (acuh tak acuh :P )

udah gitu, jalan ketempat aman deh gue dan si satpam udah jauh, keluarin lagi deh kamera gue. Ini kali kedua gue kena teguran, setelah sebelumnya di Balubur Town Square (Baltos). So beberapa tips dari pengalaman gue biar ngga kena “semprot” satpam lagi kalo mau foto di mall/tempat belanja gitu..

1. Bawa Teman/Orang

Biar kesannya kita bukan fotografer resmi, foto cuma buat dokumentasi pribadi. Rata-rata orang masih ngira yang punya DSLR itu fotografer media.

2. Pake Baju ala turis

Kalo lu pake jeans+sepatu kets+kemeja+jaket bawa kamera kesannya udah kayak fotografer media aja, coba pake celana jean panjang/pendek+sendal+kaos dan casual aja, bisa buat ngurangin curiga.

3. Pake Mirrorless Camera

Buat lo semua yang “berduit” dan emang suka fotografi tapi ngga pengen ribet, jenis kamera ini cukup simple dan bagus loh. Desainnya kayak kamera pocket, tapi fiturnya hampir setara DSLR lah.

4. Buat Izin Resmi

Nah kalo lo emang orangnya “lurus” dan ngga mau cari gara-gara silahkan tempuh jalur resmi. :)

5. Ngumpet

Yah ini sih udah emang hal biasa bagi fotografer yang gamau ribet sama perizinan. Slow sih asal smart aja :D

Isytaqtu ilaik katsiran // I missed you so much

i miss you too :’)

Libur di kampus gue cukup lama, ada sekitar 3 bulan lebih. Maklum masih tingkat awal karena belum ada Geladi/KP/Coop/Magang. Tapi gue rasa 3 bulan ini bakal terasa cepat karena ternyata udah banyak agenda yang numpuk :

  1. Proyek Revitecture dari Lab Gartek
  2. Mastering Solidworks buat persiapan keprofesian PDE (Product Design & Ergonomy)
  3. Persiapan lomba Gemastik sama INAICTA (Indonesia ICT Award)
  4. Persiapan bisnis (planning, research)
  5. Belajar 3D’s max, Flash, Developing Android
  6. Jalan-jalan (plan: Dufan, UI, keliling Jabar (ke Anyer terutama :) )
  7. Mastering fotografi, hunting foto dll
  8. Bikin video kita-kita
  9. dan semua rencana yang udah gue tempel di tembok kamar.
  10. dll

Ya walau cuma 10 poin tapi butuh waktu yang ngga sedikit sebenarnya. Tapi dengan niat, tekad dan action yang benar, Insya Allah point-point diatas bakal ke ceklis sendiri. Amin,

manfaatkan waktu luangmu dengan kegiatan yang bermanfaat..

Thanks a lot for today RNW :)

6-6-2012